Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kenapa Burnout Sekarang Sering Dialami Pekerja Muda? Ternyata Bukan Cuma karena Banyak Kerja


https://images.openai.com/static-rsc-4/PRwyALv2LCBgqa7ATTqn6KgBXtM2pfpn-ZnyzeLE2GzMf0ILlsBdO9j3CtNJci3Ogms3Tpv0X0yMhADffXmdU8AHZ130OhD2HAcyZ11tvg7j-hCNvR4XU7pm5jgVulv68wEdMTkTbE1vq3bcvG3tx0XN-5yGSNdT0gPqQ-UxOOAW9RWl13F-cLkBc8GwQplz?purpose=fullsize

Masuk kerja pagi, membuka laptop, mengejar target, menghadiri meeting, membalas chat pekerjaan, lalu pulang dengan pikiran yang masih memikirkan pekerjaan besok.

Bagi sebagian pekerja muda, rutinitas seperti ini sudah terasa normal.

Masalahnya, ketika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus tanpa waktu pemulihan yang cukup, rasa lelah bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih serius.

Bukan hanya badan yang capek. Pikiran juga mulai terasa penuh, motivasi menurun, pekerjaan yang sebelumnya biasa saja terasa sangat berat, bahkan muncul keinginan untuk berhenti dari semuanya.

Inilah yang kemudian sering disebut sebagai burnout.

Menurut WHO, burnout merupakan fenomena yang berkaitan dengan pekerjaan dan muncul akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola. Burnout ditandai dengan kelelahan, munculnya jarak mental atau sikap sinis terhadap pekerjaan, serta menurunnya efektivitas profesional.


1. Pekerja Muda Merasa Harus Cepat Berhasil

https://images.openai.com/static-rsc-4/i-G-K_WjLX2_IVy3Th8EuYp_C1KUMva-dIctgX4BiGVShug9SXdxU8tQsXsCREtpKhXzZ1uTGkxoB_J8qGKQdOJct6U2Dj2Ck0PBO03Fm_i36DIXCIPTw4PhD1kUglheE7wbSOfefd-dRfBQkGBa84cupoxSv-uezwelac8tDH9JcDk9p8NtB7FVUwhRYwcq?purpose=fullsize

Salah satu alasan burnout semakin sering dibicarakan adalah tekanan untuk cepat sukses.

Baru beberapa tahun bekerja, seseorang sudah merasa harus memiliki karier yang bagus, gaji tinggi, jabatan, tabungan, kendaraan, bahkan bisnis sampingan.

Sementara itu, media sosial membuat pencapaian orang lain terlihat setiap hari.

Teman mendapatkan promosi.

Orang lain pindah ke perusahaan besar.

Ada yang bisa bekerja sambil traveling.

Ada yang baru berusia 25 tahun tetapi sudah memiliki bisnis.

Tanpa sadar, semua itu bisa membuat seseorang membandingkan dirinya sendiri.

Akhirnya muncul pikiran:

“Kenapa aku belum sejauh mereka?”

Padahal, yang terlihat di media sosial biasanya hanya hasil akhirnya. Proses panjang, kegagalan, tekanan finansial, dan masalah pribadi di baliknya tidak selalu terlihat.

Jika perasaan tertinggal ini terus muncul, seseorang bisa memaksakan dirinya untuk bekerja lebih keras hanya agar merasa tidak kalah.

2. Dunia Kerja Sekarang Membuat Batas Istirahat Semakin Kabur

Dulu, pulang kantor bisa berarti pekerjaan selesai.

Sekarang, smartphone membuat pekerjaan dapat mengikuti seseorang ke mana saja.

Pulang kerja masih ada WhatsApp kantor.

Saat makan malam muncul email.

Ketika akhir pekan ada pesan dari atasan.

Bahkan saat sedang mengambil cuti, seseorang mungkin masih merasa harus memantau pekerjaan.

Akibatnya, tubuh memang sudah berada di rumah, tetapi pikiran belum benar-benar meninggalkan kantor.

Kondisi seperti tekanan waktu, jam kerja panjang, kurangnya kontrol terhadap pekerjaan, dan kurangnya dukungan memang termasuk faktor yang dapat meningkatkan risiko stres kerja dan burnout.

3. Bukan Selalu karena Pekerjaannya Terlalu Banyak

Ini yang sering salah dipahami.

Burnout tidak selalu berarti seseorang memiliki pekerjaan paling berat di kantornya.

Kadang masalahnya justru berasal dari cara pekerjaan tersebut dijalankan.

Contohnya:

  • Target terus berubah.
  • Instruksi pekerjaan tidak jelas.
  • Terlalu banyak pekerjaan mendadak.
  • Tidak mempunyai kendali atas prioritas pekerjaan.
  • Kurang mendapat dukungan dari atasan.
  • Takut melakukan kesalahan.
  • Usaha yang dilakukan tidak pernah dianggap cukup.
  • Harus selalu terlihat produktif.

Jadi, seseorang bisa saja bekerja delapan jam sehari tetapi tetap mengalami tekanan yang berat.

Sebaliknya, ada orang yang bekerja lebih lama tetapi tidak mengalami burnout karena memiliki kontrol, dukungan, dan lingkungan kerja yang lebih baik.

Artinya, jumlah jam kerja bukan satu-satunya faktor.

4. Takut Kehilangan Pekerjaan Membuat Orang Sulit Berkata “Tidak”

Pekerja yang masih berada di awal karier biasanya ingin memberikan kesan yang baik.

Ketika diberikan pekerjaan tambahan, mereka mungkin merasa tidak enak untuk menolak.

Ketika diminta lembur, mereka takut dianggap tidak berdedikasi.

Ketika tugas bertambah, mereka memilih diam karena khawatir dicap sebagai pekerja yang tidak mampu.

Akhirnya terbentuk kebiasaan:

“Kerjakan saja dulu.”

Satu tugas bertambah.

Kemudian tugas lain.

Lalu ada revisi.

Setelah itu muncul pekerjaan mendadak.

Lama-kelamaan, beban yang awalnya terlihat kecil menjadi tumpukan yang sulit dikendalikan.

5. Pekerja Muda Juga Sedang Membangun Kehidupan

https://images.openai.com/static-rsc-4/193il-Zqp5alNzFNTLwzXgFq1rhl_5kv5w5saAEaNr0HoSjSTN_XYhJM8qrThu32XT0qnUamWJAYu8HTGyZAGTrVek3giVIzvv-HKIevotp137XyqfGDQkV7z5MERabYuCZUmUZ47Mj22w_FZNeOTM4ia4RLtIXWGFLx-_D3nCeED4LQy0c3Q0YcESCpwYkD?purpose=fullsize

Ada satu hal yang sering terlupakan.

Pekerja muda bukan hanya sedang membangun karier.

Pada saat yang sama, mereka mungkin sedang:

  • Membayar biaya hidup sendiri.
  • Menabung untuk masa depan.
  • Membantu keluarga.
  • Membayar cicilan.
  • Mencari pengalaman.
  • Membangun relasi.
  • Memikirkan pernikahan.
  • Mencoba mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Jadi, tekanan yang dirasakan bukan hanya berasal dari kantor.

Ada banyak hal dalam kehidupan yang berjalan bersamaan.

Ketika semuanya membutuhkan energi dalam waktu yang sama, kapasitas mental seseorang juga bisa semakin terkuras.

6. Selalu Dituntut Produktif Justru Bisa Membuat Lelah

Saat ini produktivitas sering dianggap sebagai sesuatu yang harus dikejar terus-menerus.

Bangun pagi harus produktif.

Pulang kerja harus belajar.

Akhir pekan harus membangun bisnis.

Waktu luang harus digunakan untuk meningkatkan skill.

Istirahat pun terkadang dianggap membuang waktu.

Padahal, manusia tetap membutuhkan waktu untuk benar-benar berhenti.

Jika seseorang merasa bersalah setiap kali tidak melakukan sesuatu yang produktif, istirahat pun tidak lagi terasa sebagai istirahat.

Inilah yang bisa menjadi masalah.

Karena tubuh berhenti bekerja, tetapi pikiran masih terus bekerja.

7. Burnout Tidak Sama dengan Sekadar Capek

Merasa lelah setelah bekerja adalah hal yang normal.

Namun burnout mempunyai pola yang lebih luas.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Bangun tidur sudah merasa tidak bersemangat menghadapi pekerjaan.
  • Pekerjaan sederhana terasa sangat berat.
  • Mudah marah atau tersinggung.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Kehilangan motivasi.
  • Mulai bersikap sinis terhadap pekerjaan.
  • Merasa kemampuan diri semakin buruk.
  • Selalu ingin menghindari pekerjaan.
  • Tidak merasa puas meskipun pekerjaan sudah selesai.

WHO membagi burnout ke dalam tiga dimensi utama, yaitu kelelahan atau kehabisan energi, semakin menjauh atau sinis terhadap pekerjaan, serta merasa efektivitas profesional menurun.

Yang juga penting, WHO mengklasifikasikan burnout sebagai fenomena terkait pekerjaan, bukan sebagai penyakit atau kondisi medis tersendiri.

8. “Liburan Saja” Tidak Selalu Menyelesaikan Burnout

https://images.openai.com/static-rsc-4/MxCtXTaKlrmV9uBCPz2Bpu_oJjhcyzbmJTtEtoj9aFCKcVstRGIk3cLQItYbAR33MCIczUbeegPwC9PBCQWAvgd6nGrxPH2-RtsHEuqh5Dq89VjCti01kcSAK5CBEpneMsFs2pmr1pzrJ_z0Jiz6jlPmQfb07Zhn_Y_FN8yKr48Z6aVgAOzN888KaN102YAc?purpose=fullsize

Ketika seseorang mulai kelelahan, solusi yang sering terdengar adalah:

“Coba liburan.”

Memang, istirahat dan liburan bisa membantu tubuh dan pikiran mendapatkan waktu pemulihan.

Namun, jika penyebab utama burnout tetap ada, masalah tersebut bisa kembali setelah seseorang masuk kerja.

Misalnya, sebelum liburan seseorang mengalami:

  • Beban kerja yang tidak realistis.
  • Jam kerja yang terus bertambah.
  • Atasan yang sulit diajak berkomunikasi.
  • Target yang tidak jelas.
  • Tidak adanya batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Kalau semua itu tidak berubah, satu minggu liburan mungkin hanya menjadi jeda sementara.

WHO juga menekankan pentingnya intervensi di tingkat organisasi, seperti mengurangi beban kerja, memperbaiki jadwal, komunikasi, dan kerja sama tim untuk menangani risiko psikososial di tempat kerja.

9. Lalu Apa yang Bisa Dilakukan Pekerja Muda?

Tidak semua masalah bisa diselesaikan sendiri oleh pekerja.

Tetapi ada beberapa hal yang bisa mulai dilakukan.

Kenali batas kemampuan

Jangan menunggu sampai benar-benar tidak sanggup baru mengatakan bahwa beban kerja terlalu banyak.

Pisahkan waktu kerja dan pribadi

Jika memungkinkan, hindari terus-menerus mengecek pesan pekerjaan setelah jam kerja.

Belajar menentukan prioritas

Tidak semua pekerjaan harus dianggap sama-sama mendesak.

Jangan menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran diri

Karier setiap orang mempunyai waktunya sendiri.

Jangan menganggap istirahat sebagai kemalasan

Istirahat merupakan bagian dari menjaga kemampuan untuk tetap bekerja dalam jangka panjang.

Cari bantuan jika kondisi semakin berat

Jika kelelahan dan perubahan kondisi diri berlangsung terus-menerus atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan hanya menganggapnya sebagai “kurang semangat”. Berbicara dengan tenaga profesional dapat membantu memahami kondisi yang sedang dialami.

Jadi, Kenapa Burnout Banyak Dibicarakan Pekerja Muda?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana “anak muda sekarang tidak kuat bekerja.”

Pekerja dari generasi sebelumnya juga bisa mengalami burnout. Bedanya, sekarang pembahasan mengenai kesehatan mental dan kondisi kerja semakin terbuka.

Di sisi lain, pekerja muda menghadapi kombinasi tekanan yang cukup kompleks: ingin berkembang dengan cepat, harus beradaptasi dengan perubahan dunia kerja, menghadapi ketidakpastian karier, membandingkan diri melalui media sosial, dan tetap harus memenuhi kebutuhan hidup.

Ketika tekanan tersebut bertemu dengan lingkungan kerja yang tidak sehat, risikonya bisa semakin besar.

Kementerian Kesehatan juga menjelaskan bahwa pekerjaan yang terus-menerus dilakukan dengan tuntutan dan target, terutama ketika hasilnya tidak sesuai harapan, dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami burnout.

Kesimpulan

Burnout pada pekerja muda bukan sekadar persoalan terlalu banyak bekerja.

Ada banyak faktor yang bisa berperan, mulai dari tekanan untuk cepat sukses, lingkungan kerja, beban dan target pekerjaan, ketidakpastian karier, hingga sulitnya memisahkan kehidupan pribadi dengan pekerjaan.

Yang perlu diingat, bekerja keras tidak sama dengan harus selalu bekerja tanpa batas.

Karier memang penting. Tetapi kalau pekerjaan membuat seseorang kehilangan energi, motivasi, hubungan sosial, dan waktu untuk dirinya sendiri secara terus-menerus, mungkin sudah waktunya berhenti sejenak dan melihat kembali apakah cara bekerja yang dijalani memang sehat.

Karena pada akhirnya, tujuan bekerja bukan hanya untuk mendapatkan penghasilan hari ini, tetapi juga tetap memiliki kehidupan yang bisa dinikmati setelah pekerjaan selesai.

Post a Comment for "Kenapa Burnout Sekarang Sering Dialami Pekerja Muda? Ternyata Bukan Cuma karena Banyak Kerja"