Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Quarter Life Crisis atau Cuma Terlalu Banyak Lihat Media Sosial?

 

Quarter Life Crisis atau Cuma Terlalu Banyak Lihat Media Sosial?

Fenomena FOMO: Ketakutan Tertinggal di Era Digital - RRI.co.id

Pernah membuka media sosial hanya beberapa menit, tetapi setelah menutupnya justru merasa hidupmu berantakan?

Teman sudah punya pekerjaan bagus.

Ada yang mulai bisnis.

Ada yang menikah.

Ada yang membeli rumah.

Ada yang sering bepergian.

Sementara kamu masih bertanya:

“Sebenarnya aku mau jadi apa?”

Dari sini muncul pertanyaan menarik: apakah kamu sedang mengalami quarter life crisis, atau sebenarnya hanya terlalu banyak melihat kehidupan orang lain di media sosial?

Jawabannya tidak selalu salah satu.

Keduanya bahkan bisa saling memperkuat.


Apa Itu Quarter Life Crisis?

Istilah quarter life crisis biasanya digunakan untuk menggambarkan periode ketika seseorang merasa bingung, tertekan, atau tidak yakin terhadap arah hidupnya, terutama ketika memasuki masa dewasa.

Pertanyaan yang muncul bisa seperti:

  • “Aku sebenarnya mau kerja di bidang apa?”
  • “Apakah jurusan kuliahku benar?”
  • “Kenapa karierku belum berkembang?”
  • “Kapan aku bisa mandiri secara finansial?”
  • “Apakah aku berada di jalan yang benar?”
  • “Kenapa semua orang terlihat lebih maju?”

Namun, penting untuk tidak menganggap quarter life crisis sebagai diagnosis medis resmi.

Ini lebih tepat dipahami sebagai istilah populer untuk menggambarkan periode penuh ketidakpastian dan evaluasi diri.


Lalu Apa Hubungannya dengan Media Sosial?

Media sosial memberi kita akses ke ratusan bahkan ribuan kehidupan orang lain setiap hari.

Masalahnya, yang terlihat biasanya adalah versi yang sudah dipilih untuk ditampilkan.

Kita melihat:

Promosi → bukan proses panjangnya.

Liburan → bukan masalah keuangannya.

Pencapaian → bukan kegagalan sebelumnya.

Hubungan romantis → bukan konflik di balik layar.

Akibatnya, otak bisa membuat perbandingan yang tidak seimbang:

“Mereka sudah sampai sana. Kenapa aku belum?”

Padahal, informasi yang kita miliki tentang kehidupan mereka sangat terbatas.


Tanda Kamu Mungkin Terlalu Banyak Membandingkan Diri di Media Sosial

Coba perhatikan apa yang terjadi setelah menggunakan media sosial.

1. Kamu merasa lebih buruk tentang hidup sendiri

Sebelum membuka aplikasi, kamu biasa saja.

Setelah 30 menit scrolling, kamu merasa tertinggal.

Ini merupakan sinyal yang layak diperhatikan.

2. Pencapaian orang lain terasa seperti kegagalanmu

Teman mendapatkan pekerjaan baru.

Responsmu bukan:

“Wah, keren.”

Tetapi:

“Kenapa aku belum seperti dia?”

3. Kamu terus mengecek kehidupan orang lain

Bukan karena benar-benar tertarik, tetapi karena ingin mengetahui:

“Apakah mereka sudah lebih jauh dariku?”

4. Kamu merasa harus mengikuti standar tertentu

Harus produktif.

Harus punya karier.

Harus menghasilkan uang.

Harus punya pasangan.

Harus terlihat menarik.

Harus sering bepergian.

Padahal belum tentu semua itu merupakan tujuan pribadimu.


Tetapi Bagaimana Kalau Memang Sedang Mengalami Quarter Life Crisis?

Tidak semua kebingungan berasal dari media sosial.

Ada kalanya seseorang memang sedang berada pada fase hidup yang penuh pertanyaan.

Misalnya:

Karier

“Aku tidak suka pekerjaan ini, tetapi tidak tahu harus pindah ke mana.”

Finansial

“Aku ingin mandiri, tetapi penghasilanku belum cukup.”

Identitas

“Aku sebenarnya ingin hidup seperti apa?”

Relasi

“Aku ingin menikah atau sebenarnya belum siap?”

Masa depan

“Kalau keputusan yang kuambil sekarang ternyata salah bagaimana?”

Pertanyaan seperti ini dapat muncul bahkan ketika seseorang jarang menggunakan media sosial.

Jadi, menyalahkan Instagram, TikTok, atau platform lain untuk semua masalah juga terlalu sederhana.


Media Sosial Bisa Menjadi “Pemicu”, Bukan Selalu Penyebab Utama

Ini perbedaan penting.

Misalnya kamu sebenarnya sudah memiliki kekhawatiran tentang karier.

Kemudian melihat teman mendapatkan promosi.

Konten tersebut mungkin tidak menciptakan kekhawatiran dari nol.

Namun, konten tersebut bisa menekan tombol yang memang sudah ada.

Akhirnya muncul:

“Aku juga harusnya sudah seperti itu.”

Dengan kata lain, media sosial bisa menjadi penguat dari rasa tidak aman yang sudah ada.


Coba Lakukan Tes Sederhana Ini

Tidak perlu langsung menghapus semua akun.

Cobalah mengurangi konsumsi media sosial selama beberapa hari.

Kemudian perhatikan:

Sebelum mengurangi:

  • Seberapa sering memikirkan masa depan?
  • Seberapa sering membandingkan diri?
  • Seberapa puas dengan kehidupan sendiri?

Setelah mengurangi:

  • Apakah pikiran lebih tenang?
  • Apakah keinginan membandingkan diri berkurang?
  • Apakah kamu masih merasa bingung dengan hidup?
  • Apakah masalah yang sama tetap muncul?

Jika setelah mengurangi media sosial kamu masih memiliki pertanyaan yang sama tentang karier, finansial, hubungan, atau tujuan hidup, kemungkinan masalahnya memang lebih dalam daripada sekadar terlalu banyak scrolling.


Bedakan “Aku Ingin” dengan “Aku Merasa Harus”

Ini mungkin salah satu pertanyaan terpenting.

Coba tanyakan:

“Kalau tidak ada yang bisa melihat kehidupanku, apakah aku masih menginginkan hal ini?”

Misalnya:

“Aku ingin punya mobil.”

Apakah memang membutuhkan mobil?

Atau karena melihat orang lain memamerkannya?

“Aku ingin punya bisnis.”

Apakah memang menyukai dunia bisnis?

Atau karena semua orang di media sosial terlihat sukses menjadi pengusaha?

“Aku harus cepat menikah.”

Apakah itu benar-benar keinginanmu?

Atau karena melihat teman-teman mulai menikah?

Kalau jawabannya berbeda ketika tidak ada penonton, mungkin sebagian tujuanmu sedang dipengaruhi tekanan sosial.


Cara Keluar dari Siklus Perbandingan

1. Kurangi Akun yang Membuatmu Terus Membandingkan Diri

Kamu tidak harus membenci pemilik akun tersebut.

Cukup akui:

“Konten ini tidak baik untuk kondisi pikiranku saat ini.”

Mute atau unfollow bisa menjadi pilihan yang sehat.


2. Tentukan Definisi Suksesmu Sendiri

Jangan gunakan kehidupan orang lain sebagai timeline hidupmu.

Tentukan sendiri:

Karier seperti apa yang kamu inginkan?

Berapa penghasilan yang cukup?

Gaya hidup seperti apa yang membuatmu nyaman?

Hubungan seperti apa yang kamu inginkan?


3. Berhenti Mengukur Hidup dengan Timeline Orang Lain

Ada orang yang sukses di usia 20.

Ada yang baru menemukan jalannya di usia 30.

Ada yang mengganti karier setelah bertahun-tahun.

Ada yang tidak mengikuti jalur konvensional sama sekali.

Tidak ada satu jadwal universal untuk kehidupan.


Jangan Hanya Mengurangi Waktu, Perhatikan Jenis Kontennya

Ini sering terlewat.

Seseorang bisa menggunakan media sosial selama satu jam dan merasa terinspirasi.

Orang lain bisa menggunakannya selama 20 menit dan merasa sangat buruk.

Jadi bukan hanya:

“Berapa lama aku scrolling?”

Tetapi juga:

“Apa yang terjadi pada pikiranku setelah scrolling?”

Jika konten tertentu membuatmu:

  • Termotivasi → mungkin bermanfaat.
  • Mendapat informasi → bermanfaat.
  • Terhibur → bisa menjadi hiburan.
  • Terus membandingkan diri → perlu dievaluasi.
  • Merasa tidak cukup baik → mungkin perlu dibatasi.

Kapan Harus Mencari Bantuan?

Jika rasa tertekan, cemas, sedih, atau kehilangan motivasi berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu tidur, pekerjaan, pendidikan, hubungan, atau aktivitas sehari-hari, jangan menganggapnya hanya sebagai “quarter life crisis biasa.”

Berbicara dengan psikolog atau profesional kesehatan mental dapat membantu memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Tidak perlu menunggu sampai semuanya terasa sangat berat.


Jadi, Quarter Life Crisis atau Terlalu Banyak Media Sosial?

Jawabannya bisa jadi:

Keduanya.

Kamu mungkin memang sedang berada dalam fase penuh ketidakpastian.

Kemudian media sosial membuatmu melihat puluhan orang yang seolah-olah sudah menemukan jawabannya.

Akibatnya, ketidakpastian yang sebenarnya normal berubah menjadi perasaan:

“Aku tertinggal.”

Padahal mungkin kamu bukan tertinggal.

Kamu hanya sedang melihat terlalu banyak timeline orang lain dalam waktu yang bersamaan.


Kesimpulan

Quarter life crisis bukan sekadar terlalu banyak menggunakan media sosial. Seseorang bisa mengalami kebingungan tentang karier, identitas, finansial, hubungan, dan masa depan meskipun hampir tidak menggunakan media sosial.

Namun, media sosial dapat memperkuat rasa tertinggal dan mendorong perbandingan sosial, terutama ketika kita terus melihat pencapaian orang lain tanpa mengetahui keseluruhan cerita mereka.

Jadi, sebelum bertanya:

“Kenapa hidupku belum seperti mereka?”

coba tanyakan:

“Kalau aku tidak pernah melihat kehidupan mereka, apakah aku tetap menginginkan kehidupan seperti itu?”

Kalau jawabannya tidak, mungkin kamu tidak sedang kehilangan arah.

Mungkin kamu hanya terlalu lama berjalan menggunakan peta milik orang lain.

Post a Comment for "Quarter Life Crisis atau Cuma Terlalu Banyak Lihat Media Sosial?"